René

René. Aku benci dia. Sejauh ini dia tersanjung saat aku mengatakannya.

“Sumpah aku benci kamu”

“Terimakasih itu perasaan yang dalam lo”

Tapi percayalah saat aku bilang ini bukan cerita romantis. ini memang bukan!


René adalah palsu. Suka tipu-tipu. Lihat berapa kali sudah senyumnya yang merah itu melebar. Berapakali sudah rambut panjangnya ia selipkan di kuping saat dia tertawa. Aku selalu benci saat dia datang dengan sumringah, memilih kemeja putih untuk kerja. Sebuah penghianatan oleh setan pada kegelapan.


René karyawan baru yang freshgraduate itu katanya lulusan luar negeri. Tak pernah aku ingin tahu dari mana asalnya, lulusan mana atau basa-basi bilang dia lebih cantik kalau rambutnya diikat, tidak mau. Hanya parfumenya yang lewat saat dia mondar mandir saja buatku penasaran. Selebihnya tidak.  Tatapannya hangat pada semua orang. Tapi tiba-tiba beku kalau ada aku.


Aku tidak pernah ngobrol dengan René. Hanya salaman dan memperkenalkan diri saja saat ia pertama kali masuk kerja dan menata mejanya yang ada di samping punyaku. Semua orang tampak menyukai René. Semua orang kecuali aku. Aku benci René. Dia asap rokok di ruang an ber-ac.


“Kamu tidak merokok?”

“Tidak” kataku.

“Kenapa?” Tanya rene, itu bukan pertanyaan yang biasanya ditanyakan wanita setelah lelaki bilang ia bukan perokok. Aku mengacuhkannya. Membiarkan kebulan asap putih menampar wajahku, bukan dari René, dari setengah lusin kolega kerja kami yang sedang merokok sambil meminum segelas cairan yang membuat mereka lebih bodoh setiap tegukkannya. Saat itu kantor kami sedang mengadakan makan malam. Dia duduk disebelahku jadi korban sosial yang harus mengorbankan budaya demi kedudukan.


René duduk menghadapku. Ia benar-benar menatapku. Dia menengguk segelas lagi.

“Kamu tahu dit? Saya kadang-kadang tahu kapan seseorang akan mati” ia menunjuk-nunjuk dadanya. Seolah-olah sedang cerita ia pernah ditembak belanda jaman penjajahan dulu tapi tetap hidup. Aku tahu mabuknya baru saja dimulai.


“Apa yang kamu lakukan kalau aku bilang padamu kalau kamu besok akan mati?” Ialu melihat jam tangannya mengkoreksi “Nanti pagi mati”


Aku melihat jam tanganku jam setengah satu. Tengah malam ada yang memrediksi aku akan mati. Wanita cantik yang tak pernah bicara padaku, dengan mulut bau alkohol dan makanan barusan.  Bukan kombinasi yang biasa di jumat malam.


“Buat apa kamu hidup dit?” Ia kini bertanya. Pertanyaan. Benar-benar harus diperhitungkan. Buat apa? Buat apa? Buat apa aku hidup? Tunggu, kenapa aku jadi buru-buru? Kayak mau mati beneran aja.


“Dit nanti kamu mau mati” Ia kini menarik dasiku. Nadanya menuntut tapi suaranya mabuk. Pipinya merah, matanya memandang banyak hal namun tak hinggap barang sedetik dipunyaku. “Apa yang mau kau lakukan untuk terakhir kalinya?” 


Mau apa aku? Telpon ibuku yang dibandung? Sholat malam sampai pagi? Kenapa pusing? Kaya mau mati beneran aja. Aku bawa dia kerumah saja. Bagus. 


Lalu ia tempelkan telinganya didadaku. Seolah dengan begitu dia bisa dengar apa kata hatiku “Yang barusan kamu pikirkan itu pengampunan atau dosa?”


Beruntung tak ada yang memperhatikan. Yang lain juga hampir mabuk seperti René, separuhnya sedang kareoke. Sayangnya tak ada satupun yang dituduh mati nanti pagi oleh René. René merujuk, meminta, lalu manja.


“Dit, aku boleh pinjam uang gak? Mumpung nanti pagi kamu mati nih. Boleh ya?”

“Dit, kalau kamu ga ngumpetin kunci mobilnya bos kamu nyesel lo. Ga bakal dimarahin kok. Soalnya kamu ‘ntar kan mati. Diilangin juga gak apa-apa”


Aku jadi ingin jujur yang lebih terlihat mau mati adalah dia. Bukan aku. Mana boleh aku mati nanti pagi? Masih banyak yang harus aku lakukan. René tetap begitu kadang mengelus-elus pipiku kadang mencubit pipiku kadang menamparku. Mana boleh begini, katanya orang-orang suka berlaku baik pada orang yang mau mati. Aku tak pernah jadi bentuk pasif dari itu. Tapi itu tentu tidak benar. Buktinya waktu nenekku mati dulu aku sedang nonton tivi. René benar-benar tidak tahu aturan.


René memelukku. Mengatakkan sedih kalau aku mati, walau terdengar seperti igauan daripada tangisan. kemudian ia muntah dipundakku.

“Sumpah aku benci kamu”

“Terimakasih, itu perasaan yang dalam lo”


Ini senin pagi dan orang-orang bekerja seperti biasanya. Sangat biasa sampai aku bosan karenanya. Namun tidak lagi saat wangi itu lewat. René lewat. Pasti mau siomay lagi buat makan siang. Sambil menenteng botol minumnya ia berjalan, dilanjut bos yang mengikutinya kemudian. Coba waktu itu aku mengikuti kata René. 

Iklan

Milaya

Ditulis saat cahaya lampu dikamar redup, aku mencegah kepala menyerah pada bantal dan setumpuk berkas menjanjikan malam yang panjang. Tapi tidak ada yang mengalahkan abu-abu matanya yang menjanjikan badai. Aku sadar ternyata tak hanya duka yang mengundang puisi tapi juga sepi. Jadi apakah aku merindukan Milaya? Tentu saja tidak.


Orang tidak merindu karena sepi, kawan. Kamu tidak serta merta menyebutnya rindu hanya karena kamu kesepian. Itu tidak adil untuk siapapun itu yang kamu rindukan.


“Kamu itu ga punya prinsip, Sam. Bebek nyebrang jalan tol aja punya prinsip”

“Apa?”

“Ya jangan ketabrak”

“Bagus. Prinsip aku sekarang jangan mati”

Sekarang aksen bahasa inggrisnya yang tak enak terdengar seolah mengomentari pekerjaanku. Jelas sekali di bayanganku Milaya sedang tertawa membaca emailku. Suaranya sudah jadi lagu yang kubenci dan itulah yang dilakukan lagu yang kau benci. Menyelinap dalam kepala dan membajak radio diotakmu yang akhirnya mengulang lagu yang sama. Manusia itu hal termudah untuk dibajak. Tapi apa itu artinya aku merindukannya? Tidak lah. Itu murni bakat Milaya.

Bakat Milaya:

1. Membajak otak orang

Aku garis bawah supaya terlihat penting. Pertama kali bertemu dengan Milaya di Odense dia bilang dia jurnalis. Jadi sudah sesuatu yang mudah baginya duduk semeja denganku karena basa-basi itu pekerjaannya. Sedangkan aku punya keterbelakangan sosial. Ungkapan yang dibuat bebas oleh si Dimas yang bilang aku tak pandai membuat kesan ramah pada orang-orang baru. Tapi untungnya kecuali dengan si Milaya ini, karena kebetulan ia menganggap sarkasme adalah lelucon yang elegan.

Si Dimas sering berkelakar kalau yang aku butuhkan adalah kekasih. Tentu saja dia buta atau setidaknya tolol. 

“Yang aku butuh itu duit, bego!”

“Biar ada yang bikinin kopi, Sam!”

Baru ini aku dengar alasan ter-cetek untuk mendapatkan gadis. Tapi Dimas benar soal kopi. Tidak efektif bolak-balik dapur tujuh kali semalam buat bikin kopi, kan asik kalau ada yang bikinin. Tapi Milaya itu seorang feminist. Bukan sekedar gerakan feminist sampai kawin, bukan yang ngaku feminist tapi marah kalau tidak diperlakukan ladies first. Dia itu feministnya feminist. Boleh jadi kalau bisa suminya yang disuruh hamil. Mana mau dia nyeduh kopi buat aku.

“Aku suka kelebihan energi kalau habis minum kopi”

“Kamu begitu karena kamu pikir begitu aja.”


Dia tea-person bukan coffee-person. Dia semacam pembenci americano. Dia semacam punya pengalaman buruk dengan kopi jenis itu. Jadi dia mengecam kopi. Kalau jenis kopi itu adalah artis di Instagram dia orang nomer satu yang mencaci-makinya.


Tidak pernah aku bayangkan ada skenario dalam hidupku yang menceritakan aku sedang menyesap kopi sambil menulis tulisan cengeng soal seorang gadis Rusia yang tengah aku tunggu-tunggu balasan emailnya. Yah, hidup memang lucu, kadang ia membuat lelucon tepat didepan hidup mu.
‘I don’t know what I can’t save you from’ sedang berkumandang dipojok ruanganku lewat speaker yang volume suaranya penuh, hujan datang menawarkan tidur yang enak tak terkira. Perpaduan lagu cengeng dan hujan itu mematikan, kawan. Sekarang akan lucu kalau aku bilang aku tak merindukan Milaya. Aku merindukan Milaya dan aku menyelesaikan tulisan Ini dengan harapan bisa tidur tanpa mimpi aku hamil.

Samudera

Sabtu, 2 Desember 2017

​Gajah #2

Berapa saat yang lalu Sandi yakin dia orang yang sanggup menyelenggarakan cinta lengkap pakai akad dan resepsi digedung samping balaikota itu. Sekarang, ketika memandang gadis didepannya yang sedang menautkan alis, ia semakin yakin bahwa ia sedang ragu-ragu.

Malia. Gadis gajah didepan Sandi Ini bukanlah pacarnya. Apalagi tunangannya. Ia adalah Malia. Sesederhana itu. Tak bisa digenggam. Malia bukanlah teh, bukan juga kopi. Malia bukan puisi, bukan juga pujangga. Malia tidak dalam kategori manapun tapi malia adalah kategori manapun.

Malia itu seperti ibunya, dulu Sandi pikir adiknya yang bernama Rama lah orang paling sulit dimengerti tapi ia salah. Adiknya yang sedang kuliah di ITB itu tidak lah rumit, ia persis seperti Sandi. Begitu mudah dibaca setelah mengenalnya. Namun Ibunya berbeda, Ibunya tak pernah jadi buku terbuka. Sandi sering membaca situasi dan memikirkan apa kira-kira respon ibunya setelah itu tapi ia tak bisa. Ibunya selalu bertindak diluar perkiraan Sandi, persis seperti Malia.

Malia pernah menjuluki kepalanya kubah penuh teror. Sandi sepakat. Kalau saja Sandi punya kekuatan super membaca pikiran orang lain sepertinya membaca punya malia juga susah. Sandi cukup yakin gambaran isi kepala malia adalah seperti atom hidrogen didalam panci yang meletup-letup. Sandi juga bakal bingung. Sandi curiga kalau ia berani lamar malia dengan aksi menari ramai-ramai pakai musik Dan balon warna-warni serta sekitar 300 tangkai bunga si malia bukan nya menangis malah ikut teriak ‘terima-terima-terima’.

Dia sering menakutnakuti Sandi. Dengan menghilangkan yang ada menjadi tak ada. Seperti apapun namanya diantara mereka berdua. Seram.

​Kesatria dan Naga 

Suatu hari disebuah negeri yang indah, ada seekor naga disebuah menara yang tinggi. Semua orang ketakutan dan lari. Tak ada yang berani mendekati menara itu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Hingga akhirnya seorang kesatria datang dan menghampiri sang naga

“Apakah kamu butuh bantuan untuk turun?”

“Tolong” kata naga itu.


Tamat.