Latibule

“Siapa yang menyakitimu?” dia memandangku seperti puisi, tragedi.

“Pertanyaan yang lucu. Siapa yang menyakitimu kalau begitu?”

Ia mengangkat bahunya sekilas, memilih memandangi apa saja yang penting bukan aku. Pemandangan dari atap gedung mendung, cenderung sendu kala itu.

“Semuanya sakit. Aku senang kamu tidak mengerti. Ketidakacuhan seperti itu sehat”

Ia menghembuskan napas panjang, “Jangan bertingkah seolah-olah kamu satu-satunya yang tahu luka, Ay”

“Kalau begitu berhenti bertingkah seperti sedih itu penyakit mental”

Kemudian sunyi lagi, kembali pada rokok masing-masing.

Latibule

(n.) a hiding place; a place of savety and comfort

Gajah #3

Malia percaya semua orang ketakutan, gelisah dan punya hari gelap. Itu benar dan bukan sentimental. Mungkin masa kecil, mungkin saat remaja, mungkin ketika dewasa, atau malah beberapa minggu yang lalu, Malia tidak tahu. Hidup bisa saja jalanan dan tidak ada dari kita yang menyebrang tanpa ditabrak mobil. Perumpamaan yang bodoh dan tidak masuk akal? Memang itu maksudnya.

Saat remaja Malia mulai percaya manusia adalah luka, mengeluarkan terlalu banyak upaya untuk menutupinya. Sayangnya tidak banyak orang yang menganggap retaklah yang membuat patung lebih indah.

Nah, namun soal kepercayaan itu, Malia seringnya menganggap Sandi adalah makhluk biologis bukan manusia, ketidak beruntungan adalah memilikinya sebagai satu-satunya orang yang mengerti malia.

Kadang Malia mengamati senyum Sandi, lewat lirikan kilat yang terlatih, mencoba menemukan retakan. Kalau begitu mereka mungkin bisa duduk santai sambil minum teh pada akhirnya. Membicarakan langkah yang paling baik untuk siapa saja. Tapi tidak mereka lakukan. Karena mereka sudah dewasa. Mereka memilih jalan yang lebih rumit dan tidak pernah mudah.